Senangkan Isteri

| April 29, 2015 | 1 Comment


Senangkan IsteriAda copas dari tetangga. Kita kembangkan dan inilah copasnya: “Senangkan Isteri”.
Ada alasan mengapa ada suami berlebih-lebihan perlihatkan kasih sayang pada isteri. Apalagi di tempat terbuka. Apa alasannya? Isterinya secantik bidadari. Maka dimanapun berada, isteri pasti rebut perhatian. Bukan hanya senang, bangga suami jadi tak habis-habis.

Siapa yang tawanya terbahak-bahak, saat musibah dia cenderung histeria. Itu sunatullah. Tak bisa kontrol diri. Sebab ketika senang, tawanya yang berderai-derai. Lupa diri. Saat sedih, dia sedih sesedih-sedihnya. Histeris. Lupa diri juga. Artinya waktu cantik, dia bangga. Tak cantik, tengok pun ogah. Untuk jadi isteri, amit-amit jadinya. Saat cantik isteri pudar, marahnya tersulut.

Menikah dilandasi cinta dan cantik memang selangit rasanya. Tapi yang mulia menikah tanpa cinta. Bahkan bisa bertahan dan tetap harmoni. Yang aneh, menikah dengan cinta, tapi toh rumah tangganya bermasalah juga. Mengapa? Berarti cintanya terbangun atas dasar tampilan fisik.

Ketika peyot, sakit-sakitan, dan keriput, kecantikan yang dipuja-puja punah. Isteri was-was takut ditinggal. Suami juga was-was takut isterinya ‘sembleb’.

Maka hai para suami, meski isteri tak jadi bidadari, tetaplah hargai isteri. Ingat dia pendamping hidup. Bukan sekadar teman ngobrol di rumah. Bukan cuma untuk gaya-gayaan ke pesta, pamer di kantor, jalan-jalan pelisiran. Ada yang lebih esensial. Rumah tangga tanggung jawab isteri.

Hargai isteri banyak manfaat. Ke-1, itu didik diri suami sendiri. Suami musti bisa terima kekurangan isteri. Bagaimana jika terlanjur sebel?
Sebel itu wajar. Jangan-jangan isteri malah lebih meradang sebelnya. Sebagai wanita perasaannya lebih peka. Sedang lelaki, rasionalnya redupkan rasa. Berpuluh-puluh tahun menikah, pasti benci dan rindu timbul tenggelam. Campur aduk antara gondok dan sayang. Mau marah-marah sudah terlanjur tua.

Lha bagaimana bisa terima kekurangan jika sudah sebel dan bikin gondok? Ya bicara memang mudah. Yang jalanin payah. Hanya soalnya, apakah yang berkeluarga Anda saja? Apakah kita-kita juga tak punya keluarga? Masalah kita sama. Tinggal cara atasinya yg beda.

Kini ubah niat. Niat yang di awal tak jelas, sekarang niatkan ‘untuk sujud berjamaah’. Agar sujud diterima, buang ‘syak waswiswus’. Niat lah karena Allah. Lupakan semua keburukan isteri. Lihat baik-baiknya. Pasrah total pada Allah. Ini cara suami didik diri.

Ini perlu waktu. Begitu muncul tak suka, segera kembali ke niat. Muncul lagi, balik ke niat lagi. Latih dan biasakan. Insyaa Allah ada kemudahan.

Ke-2, hargai isteri artinya seperti hargai ibu. Bukan samakan posisi. Tapi begitu mau marah, segera reda karena seolah marahi ibu. Ingat ibu, segera kita siapkan diri silaturahim. Jika jauh cukup dengan HP. Jika dekat ringankan kaki. Cium ibu. Isteri pun jadi senang.

Ke-3, dengan hargai dan kunjungi ibu, otomatis kita didik anak-anak untuk hargai ibu mereka. Isteri jelas ibu dari anak-anak kita.

Ke-4, marah boleh. Tapi upayakan jangan tengkar, memaki, bentak apalagi hingga memukul. Jika anak lihat, hati anak-anak pasti sakit. Bagi anak-anak jelas. Ibu adalah kauw hawa. Lebih lemah dari bapak yang memang garang. Simpati anak pada ibu, sama artinya sakit hati pada bapak.

Ke-5, ketika marah boleh juga tak tegur isteri. Tapi pesan Rasulullah SAW: “Kita boleh tak menegur. Tapi jangan lebih dari tiga hari”.

Ke-6, ingat jantung rumah adalah isteri. Jantung bermasalah, otomatis seisi rumah bermasalah. Hati isteri sakit, seisi rumah berduka. Tak ada canda, tawa, dan senyum aduhai isteri. Rumah terasa asing. Duduk salah, berdiri keliru, tiduran apalagi.
Suami boikot, isteri bisa tenang-tenang saja. Tapi isteri boikot, suami blingsatan. Sebab penguasa rumah itu isteri, ibunya anak-anak.
Buatlah senang isteri agar dia bahagia. Ketika isteri bahagia, engkau dapat perhatian. Rumah jadi terasa indah, berseri, penuh kehangatan.
Isteri yang shaleh tak pandang gaji kita besar atau kecil. Dia butuh perhatian. Berilah perhatian. Syukur-syukur gaji kita juga mencukupi. Dengan perhatian, isteri selalu sambut dengan sumringah dan kasih sayang. Dengan perhatian, gaji kurang akan dicukup-cukupi tanpa mengeluh.

Suami isteri tak perlu jaga gengsi, siapa menangi siapa. Karena suami isteri bukan untuk bertanding. Melainkan teman hidup.
Di luar, banyak wanita idaman melebihi isteri. Namun mereka cinta atas dasar apa yang dipunya dan dicapai sekarang ini. Saat ditemui kesulitan, wanita tersebut akan tinggalkan sang suami. Jangan-jangan punya pria idaman lain di belakang kita pula.

Banyak isteri yang baik. Tapi, di luar sana banyak pria yang ingin punya istri yang baik. Dan mereka tidak mendapatkannya. Mereka bisa tawarkan perlindungan pada isteri kita. Maka jangan biarkan isteri tinggalkan rumah karena sedih atas tingkah kita.

Terakhir, ajarkan anak laki-laki untuk berlaku baik pada ibunya. Agar kelak mereka paham bagaimana perlakukan isterinya dengan baik.
Melihat bapak ajarkan anak laki-lakinya begitu, isteri mana yang tak sujud syukur. Ya Allah kucurkan rahmatmu pada suami-suami seperti ini.

Tags:

Category: Inspirasi

About the Author ()

Comments (1)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. ghureem says:

    benar apa kata Bung Rhoma, istri sholeha perhiasan dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *