Kartini Masa Kini

| April 21, 2015 | 0 Comments


kartini lagiMenyongsong indahnya mentari pagi di hari Kartini. Apa sesungguhnya sosok perempuan yang diidam-idamkan sang pejuang? #KartiniMasaKini

1. Tak ada hubungan antara Kartini dan pakaian tradisional. Namun di tiap perayaan Kartini di 21 April, selalu saja ada kontes pakaian itu

2. Sayangnya di kota-kota besar, belakangan perayaan itu malah tak lagi segegap dahulu. Semoga di pelosok-pelosok masih kuat tarikannya

3. Sesungguhnya pakaian boleh berubah. Semangat janganlah. Namun, bila anda wanita: “Apakah masih punya semangat pedulinya Kartini?”

5. Tapi Kartini juga mesti menahan napas. Bukan hanya melebihi, tapi Kartini-Kartini sekarang banyak juga yang kebablasan bersikap

6. Di 1904, Kartini ditandai dengan ‘habis gelap terbitlah terang’. Slogan ini menandai sebuah harapan. Perubahan untuk nasib kaumnya

7. Tapi di 2014 kemarin, kebaya Kartini telah berubah. ada yang tampil dengan kaca mata hitam dan t-shit you can see. Seksi beraaat

8. Di bawah foto #KartiniMasaKini itu tertulis: “Berangkat gelap. Pulangnya terang” | #CharacterBuilding

9. Di 2015 ini, pesan-pesan menakjubkan tersebar di banyak HP: “Bagi yang ingin cari teman dekat/kencan. Aku siap melayani sampai puazzz”

10. Pesan sama dengan bahasa lain: “Ini aku Dinda. Bagi yang butuh SENTUHAN DEWASA. Add pin-ku nomor…” | #KartiniMasaKini #CharacterBuilding

11. Bahkan saat Tahajud pun masuk pesan ke hape: “Bagi yang rindu desahan, mengapa tak hubungi aku di nomor ini” | Astaghfirullaah …

12. Tentu bukan ini harapan Kartini. Ini ekses. Ada sebab, punya akibat. Karena kemiskinan atau takut miskin. Apapun bisa betot ke arah itu

13. Maka hati-hatilah bagi wanita yang cantik. Sekali dua kali tahan dirayu lelaki. Tetapi tiap hari rayuan masuk, bisa jebol juga

14. Atau malah cantiknya itu yang dijadikan senjata. Jika ini yang terjadi, kemanapun dia pergi ujung-ujungnya bisa jadi bencana

15. Hati-hati pula bagi wanita yang karirnya melejit. Dia mulai fantasikan lelaki yang posisinya melebihi dirinya. Lebih hebat. Lebih wibawa

16. Sudah kodrat wanita pendamping dan setara lelaki. Punya suami di bawah posisi dirinya, kewanitaannya berontak | #KartiniMasaKini

17. Dia butuh sandaran di dada lelaki yang berwibawa, butuh pula bermanja-manja pada lelaki yang hebat | #KartiniMasaKini #CharacterBuilding

18. Bagi wanita yang hartanya meruah-ruah pun problemnya sama. Banyak pula tersedia lelaki six packs yang siap melayani sampai tuntas

19. Pertanyaannya: “Apakah Kartini berharap seperti itu?” Tak usah dijawab pun kita paham jawabnya | #KartiniMasaKini #CharacterBuilding

20. Bagi yang sudah terjebak, mau terus dibenam syahwat atau perbaiki diri? Andai mau berbenah, ayo saatnya kini. Jangan tunggu esok

21. Bagi penggoda jangan menunggu. Jika hendak menunggu, apa yang ditunggu? Segera tinggalkan. Merenunglah. Akui kekeliruan. Taubat

22. Tinggalkan lingkungan yang keliru. Jangan takut miskin. Pekerjaan banyak. Cuma kita sering memilih sesuai selera

23. Takut miskin dan sesuai selera, inilah soalnya. Di awal bisa jadi justru ini penjerumusnya. Setelah terjerumus, apakah hidup lebih baik?

24. Asal mau sederhana dan tak panjang mimpi, pasti ada jalan. Ketika saat ini dipanggil menghadap, wafatlah dalam khusnul khatimah

25. Ketika di ambil nyawa di saat mundur maju dan masih terbenam di syahwat, masa depan jadi gelap gulita. Semua jadi bencana

26. Bencana di dunia, bisa jadi pencuci dosa dan peningkat iman. Bencana di akherat, itu perkara permanen. Hindari ‘siksa di atas siksa’

27. Kita tak memilih keduanya. Maka ayo sama-sama berbenah. Taubat. Tinggalkan yang silam. Mulai detik ini, bismillah, berharap ridho-Nya

28. Bagi yang sudah berpasangan, kembali ke lajur awal. Bagi yang membuat retak, berbenah total. Minta maaf pd keluarga. Sibuki menatap esok

29. Bagi yang tak buat retak keluarga, bersyukurlah. Sebab tak akan dituntut. Ikhlasnya baik bagi dirinya dan pasangan yang keliru

30. Ikhlasnya semoga selamatkan keluarga. Semoga Allah SWT muliakan dia. Ikhlasnya juga leluasakan pasangannya untuk bertaubat

31. Bagi keluarga yang anak-anaknya terlanjur terperosok, ajak diskusi dengan ma’ruf. Jangan kasar. Itu hanya tambah masalah saja

32. Aa Gym bilang: “Nasi sudah jadi bubur, jadikan bubur ayam”. Tapi ini soal piring yang sudah pecah berserak. Fatal. Mungkin ada dendam

33. Piring sudah pecah. Emosi dan kasar makin menyakitkan. Sentuh dengan lembut, sabar, menenangkan menyejukkan. Bangkitkan kesadaran

34. Andai belum berhasil, tetaplah tunjukkan kasih sayang. Bahkan hingga kita berpulang ke rahmatullah. Semoga itu jadi penyadar anak

35. Kasih sayang yang ditunjukkan hingga akhir hayat, itu yang membekas di anak. Semoga hidayah turun dan taubatlah anak yang salah jalan

36. Bagi yang hidup normal, selami harapan Kartini. Mimpinya untuk kemajuan wanita-wanita Indonesia. Tidak untuk dirinya sendiri

37. Sama seperti Lee Kuan Yew. Saat sekolah ke Cambridge, niatnya tidak untuk keberhasilan dirinya sendiri. Tapi demi bangsanya

38. Kini banyak Kartini yang telah maju. Banyak yang berhasil. Tak terhitung yang duduk sebagai direktris atau yang punya perusahaan sendiri

39. Pergi ke LN seperti bolak-balik ruang tamu dan dapur. Tampilan anggun dan penuh keyakinan diri. Simpanan uang banyak dan punya asuransi

40. Pertanyaannya: “Apakah itu semua hanya untuk pribadi?” Ingat wanita itu tiang rumah tangga, tiang masyarakat, akhirnya tiang negara

41. Ingatlah lagu yang seolah paham Indonesia kini: “Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati”. Mengapa bukan ‘bapak pertiwi’?

42. Maka, wahai para Kartini hari ini, “Apa yang mau dan telah kau sumbangkan untuk negeri ini?” | #KartiniMasaKini #CharacterBuilding

Tags:

Category: Karakter

About the Author ()

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *