Ganasnya Serakah

| January 27, 2015 | 0 Comments


ganasnya serakahSudah mulai musim hujan. Mentari bakal jarang muncul. Semoga sinyalnya kuat terus untuk pancarkan kultweet setiap pagi | #GanasnyaSerakah

1. Orang egois itu tak langsung merugikan, cuma “nyebelin”. Dia tak peduli pada lingkungan. Asyik dengan dirinya, seolah tak ada orang lain

2. Ego punya kakak. Siapa? Serakah alias tamak. Beda dengan ego, tamak itu sudah ambil hak orang lain. Posisinya rugikan orang lain

3. Ego pun punya adik. Siapa? Kikir alias pedit. Orang yang tamak, tandemnya kikir. Tamak dan kikir jadi saudara tak terpisahkan. 11 12 lah

4. Korupsi itu karena serakah. Serakah itu halalkan segala cara. Maka hasil korupsi itu pasti haram. Tak ada korupsi yang halal

5. Sense of belonging itu baik. Cuma bagi koruptor, sense-nya terlampau tinggi. Barang orang lain pun ingin dimiliki | #GanasnyaSerakah

6. Dalam kehidupan sehari-hari, tamak dan kikir terwujud pada perilaku rentenir. Di zaman Soekarno, mereka dinamakan “lintah darat”. Kini?

7. Dalam manajemen, jika ego, tamak dan kikir dikelola profesional, hasilnya industri hulu hilir. Dengan korporasi “wajah bengis jadi indah”

8. Komunikasi pun jadi tricky. Karyawan tambang cuma 2.000 orang, tapi sudah berani teriak: “Kami bangun Indonesia” | #GanasnyaSerakah

9. Lha, gali dan olah tambang sudah tugasnya. Bagi hasil juga tak imbang. Berapa biaya operasional, royalty dan pajak untuk Indonesia?

10. Bisa kita tahu transparan-nya? Yang pasti, terbesar dibawa ke luar Indonesia. Yang kita khawatirkan, jangan-jangan lebih dari 70% laba

11. Negeri ini minim prestasi. CSR yang tak seberapa pun, PR-nya diangkat membahana. Biaya PR bisa berkali-lipat dibanding dana CSR-nya

12. Dulu singkatan CSR = Corporate Social Responsibility. Kini CSR lebih menjadi Corporate Social Reporting | #GanasnyaSerakah

13. Artinya, laporan CSR jauh lebih dahsyat ketimbang programnya. Seperti iklan Fuji film tempo dulu: “Lebih indah dari warna aslinya”

14. Serakah dan kikir itu menyatu. Saat dorong konglomerat sebagai lokomotif, kita minta terapkan strategi trickle down effect (TDE)

15. Metode TDE itu begini. Ibaratkan ada gelas kosong. Lantas isi dengan air. Ketika penuh, air pun tumpah dan merembes ke sekitarnya

16. Arti rembesan, itulah yang diminta negara menghidupkan usaha kecil di sekitarnya. Strategi yang dipilih negara sudah baik dan benar

17. Ini pas dengan nasihat bijak yang mengatakan: “Tidak mungkin batu besar bisa tegak berdiri tanpa ditopang batu-batu kecil lainnya”

18. Ternyata TDE cuma indah di atas kertas. Pada prakteknya yang terjadi adalah trickle up effect (TUP). Bagaimana itu? #GanasnyaSerakah

19. Saat air penuh dan hendak tumpah, ternyata bibir gelas ditinggikan. Hendak tumpah lagi, bibir gelas ditinggikan. Terus terus dan terus

20. Bibir yang ditinggikan itu, tak lain adalah anak perusahaan sendiri. Dibangun untuk perbesar skala bisnis dan perusahaan mereka sendiri

21. Konglomerat di kita pun fantastis perkembangannya. Ratusan perusahaan dalam satu holding dibangun dalam periode 80 hingga 90-an

22. Pemerintah tak tanggung-tanggung. Tambah lagi dengan kebijakan Pakto dan Pakdes. Persilakan mereka buat bank. Pesta pun tak terkendali

23. Bayangkan membuat perusahaan sendiri, tapi dengan dana dari tabungan masyarakat. Maka “sempurnalah kekacauan bisnis di Indonesia”

24. Ada pengusaha HPH, yang luas hutannya 3 x luas kerajaan Inggris. Lha jangan bandingkan lagi dengan luas Brunei apalagi Singapura

25. Ada pengusaha yang tak mau jadi konglomerat, mengingatkan dalam tulisannya: “Andai saya jadi konglomerat”. Siapa dia? Kwik Kian Gie

26. Kwik menyayangkan kebijakan pemerintah. Serta meradang dan resah sekali dengan perilaku teman-temannya yang jadi konglomerat

27. Akhirnya krismon melabrak 1998. Nyaris semua konglomerat bermasalah. Pemerintah pun terbetot ke pusaran keserakahan konglomerat

28. Bagai buah simalakama. Didiamkan, ibu mati. Dibantu, bapak mati. Akhirnya daripada daripada, ya mendingan mendingan | #GanasnyaSerakah

29. Digelontorkanlah BLBI. Pemerintah semakin tenggelam dalam kekisruhan bisnis konglomerat. Tahun 1998 BLBI capai Rp 600-an triliun

30. Angka 1 triliun = 1.000 milyar. BLBI setara dengan Rp 600 ribu milyar. Katanya tak sampai untuk 200 pengusaha paus. Bukan lagi kakap

31. BPPN dibuat untuk selesaikan BLBI. Ternyata BPPN pun bermasalah. Kabar angin bilang, ada permainan juga. Inalillahi… #CharacterBuilding

32. Jika itu benar, keserakahan telah merata di negeri ini. Lihat uang, apalagi triliunan, membuat saya dan banyak orang lupa tugasnya

33. Diam-diam BPPN pun akhirnya masuk gudang. Mengikuti jejak drama lain bangsa ini yang terkubur. Jelaga hitam sejarah kita makin kelam

34. Kita kalkulasi BLBI. Digelontorkan 1998 Rp 600 triliun. Ada bunganya? Ada dong, 10% per tahun | #GanasnyaSerakah #CharacterBuilding

35. Sekarang sudah 2015. Berarti sudah 17 tahun. Bunga 10% x 17 tahun = 170%. Berapa kewajiban yang harus dikembalikan penerima BLBI?

36. Pokok Rp 600 triliun. Bunga 170% X Rp 600 = Rp 1.200 triliun. Kewajiban pengembalian BLBI = Rp 600 + Rp 1.200 = Rp 1.800 triliun

37. Uang itu besar bukan? Tapi bagi negeri ini tak ada arti apa-apa. Sebab kini, siapa yang berani mati membuka kembali kasus BLBI dan BPPN?

38. Keserakahan ratusan pengusaha tenggelamkan bangsa. Hati-hatilah dengan sifat rakus. Rakus itu tak akan pernah selesai | #GanasnyaSerakah

39. Rasulullah SAW: “Sudah diberi satu gunung emas, minta gunung emas lainnya” | #GanasnyaSerakah #CharacterBuilding

40. Mahatma Gandhi: “Bumi ini cukup untuk 7 generasi. Tapi tidak cukup untuk 7 pengusaha yang serakah” | #GanasnyaSerakah #CharacterBuilding

41. Besok coba kita kuak keserakahan dalam bentuk lain. Tampaknya membangun. Namun jika tak dibenahi, fondasi ekonomi kita tengah digorok

42. Tunggu ya. Sekitar 24 jam lagi. Sekarang, ayo kembali kerja, kerja, kerja … | #GanasnyaSerakah #CharacterBuilding | Jangan serakah ya

Tags:

Category: Karakter

About the Author ()

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *